ILMU BUDAYA DASAR


ILMU BUDAYA DASAR
Sub Konsep Kontemplasi dan Ekstansi

Logo Gunadarma (Universitas Gunadarma) Original PNG

1KA14
KELOMPOK 1
Nama :
1.    Tengku Adinda Zhafirah Fitri    (16119316)
Sistem Informasi
Ilmu Komputer dan Informasi
Universitas Gunadarma
Jakarta
2020







DAFTAR ISI


PEMBAHASAN
       Konsep Kontemplasi dan Ekstansi.................................................................................. 3
       Definisi Kontemplasi dan Ekstansi.................................................................................. 4
       Unsur Kontemplasi dan Ekstansi.....................................................................................5

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................12




















PEMBAHASAN

KONSEP KONTEMPLASI DAN EKSTANSI

Kontemplasi sama halnya dengan meditasi tetapi tidak sepenuhnya mengosongkan pikiran. Kontemplasi lebih pada merasakan kehadiran Tuhan, memikirkan dan merenungkan konsep kehidupan, mengevaluasi diri serta menghayati jalannya hidup kita.
Melalui kontemplasi, kita dapat merenungkan siapa kita, apa panggilan hidup kita, apa sebenarnya dunia ini, apa kedudukan kita di dunia ini. Melalui kontemplasi, bisa bebas mempersoalkan semua kepercayaan dan asumsi mengenai hidup ini. Melalui kontemplasi, bisa mengenali semua yang menghantui dihidup ini, dan mencari jalan keluar. Melalui kontemplasi, bisa membangun penerimaan dan citra diri yang lebih mulia. Melalui kontemplasi, bisa memilih jalan-jalan baru yang ingin ditempuh. Melalui kontemplasi pula kita bisa menyadari betapa beruntungnya dikehidupan ini,serta betapa banyak berkat yang didapatkan.    
            Dengan adanya Kontemplasi dan Ekstansi kita lebih merasa dicintai oleh Tuhan, seperti halnya memandang Tuhan dengan penuh perhatian dan kita berjuang keras untuk mencapainya. Akhirnya jiwa dapat memandang Tuhan dan mempersiapkan jiwa sampai pada tahap Beatific Vision (penglihatan yang membahagiakan). Apapun yang kita lakukan sungguh memandang dalam kegelapan bahwa Tuhan tersembunyi sekaligus sungguh hidup dalam dirinya.
            Dalam arti katanya kontemplasi bisa diartikan sebagai renungan yang disertai dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh, maka dapat kita simpulkan bahwa berkontemplasi adalah suatu keadaan di mana seseorang merenung dan berpikir dng sepenuh perhatian. Kontemplasi bertujuan untuk menciptakan sesuatu yang indah. Di kalangan umum kontemplasi diartikan sebagai aktivitas melihat dengan mata atau dengan pikiran untuk mencari sesuatu dibalik yang tampak atau tersurat misalnya, dalam ekspresi seseorang sedang berkontemplasi dengan bayang-bayang atau dirinya dimuka cermin.
Kontemplasi dapat juga diartikan sebagai suatu proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Dalam kehidupan sehari-hari orang mungkin berkontemplasi dengan dirinya sendiri atau mungkin juga dengan benda-benda ciptaan Tuhan atau dengan peristiwa kehidupan tertentu berkenaan dengan dirinya atau di luar dirinya.
       Ekstansi bertujuan untuk merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Ekstansi dapat diartikan sebagai dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi merupakan faktor pendorong untuk merasakan, menikmati keindahan. Karena derajat atau tingkat kontemplasi dan ekstansi itu berbeda-beda antara setiap manusia, maka tanggapan terhadap keindahan karya seni juga berbeda-beda. Apabila kedua unsur tersebut digabungkan akan menciptakan penilaian yang indah. Keindahan yang didasarkan pada selera seni juga didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi.

DEFINISI KONTEMPLASI DAN EKSTANSI

            Keindahan itu pada dasarnya adalah alamiah. Alam ciptaan Tuhan. Ini berarti bahwa keindahan itu ciptaan Tuhan. Alamiah artinya wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang. Kalau pelukis wanita lebih cantik dari keadaan sebenarnya, justru tidak indah. Bila ada pemain drama yang berlebih-lebihan; misalnya marah dengan meluap-luap padahal masalahnya kecil, atau karena kehilangan sesuatu yang tidak berharga kemudian menangis , meraung-raung, itu berarti tidak indah.  
(Nugroho dan Muchji, 1996, hal 87-88)
Keindahan dapat dinikmati melalui selera seni atau selera biasa. Keindahan melalui selera seni didasari oleh factor kontemplasi (contemplation) dan faktor ekstansi (ecstasy). Dalam Kamus Inggris-Indonesia oleh John M. Echols dan Hassan Shadily (1995), kontemplasi menurut arti kata adalah perenungan, pemikiran, dan penatapan tentang sesuatu. Dalam konteksnya dengan keindahan, kontemplasi merupakan perenungan, pemikiran dan penatapan tentang sesuatu yang indah dan ini cara mengisi waktu yang menyenangkan. Dengan kata lain, kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Dalam kamus tersebut, ekstansi menurut ari kata adalah kegembiraan luar biasa mengenai sesuatu,. Dalam konteksnya dengan keindahan, ekstansi adalah perasaam gembira dan senang melihat atau mengalami sesuatu yang indah.
(Muhammad, 2011, hal 119)
            
UNSUR KONTEMPLASI DAN EKSTANSI

            Keindahan dapat dinikmati menurut selera seni  dan selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Apabila kedua dasar ini dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi  penilaian bahwa sesuatu itu indah. Sesuatu yang indah itu memikat atau menarik perhatian orang yang melihat , mendengar. Bentuk diluar diri manusia itu berupa karya budaya yaitu karya seni lukis, seni suara, seni tari, seni sastra, drama dan film, atau berupa ciptaan Tuhan misalnya pemandangan alam, bunga warna-warni, dan lain-lain.
(Nugroho dan Muchji, 1996, hal 87)
Apabila kedua dasar tersebut dihubungkan dengan objek di luar diri manusia, akan terjadi penilaian bahwa objek itu indah. Objek yang indah itu menyenangkan, menggembirakan, menarik perhatian dan tidak membosankan orang yang melihat, mendengar atau mengalaminya. Objek diluar diri manusia itu berupa karya budaya ciptaaan manusia, antara lain lukisan, tarian, nyanyian, sinetron (sinema elektronik), mode busana, tata letak, dan bangunan rumah atau karya ciptaan Tuhan antara lain pemandangn alam, bunga warna-warni, dan wanita cantik.
            Apabila dihubungkan dengan kreativitas, kontemplasi merupakan faktor pendorong untuk menciptakan sesuatu yang indah, sedangkan ekstansi merupakan faktor pendorong untuk merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Karena derajat kontemplasi dan ekstansi itu berbeda-beda antara manusia yang satu dan manusia yang lain, maka tanggapan atau apresiasi terhadap keindahan juga berbeda-beda. Mungkin orang yang satu mengatakan karya budaya itu indah, tetapi orang lain mengatakan karya budaya itu buruk/jelek.
            Bagi seorang seniman, faktor kontemplasi lebih dominan jika dibandingkan dengan orang bukan seniman. Bagi orang bukan seniman, faktor ekstansi lebih dominan. Dengan kata lain, seorang seniman mampu menciptakan keindahan dan sekaligus menikmatinya, tetapi orang bukan seniman hanya mampu menikmati keindahan dan tidak mampu menciptakan keindahan karena selera seninya rendah. Dalam diri manusia terdapat faktor kontemplasi dan ekstansi, oleh karena itu keindahan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
(Muhammad, 2011, hal 119-120)
Pengungkapan keindahan dalam karya seni didasari oleh motivasi tertentu  dan dengan tujuan tertentu pula. Motivasi itu dapat berupa pengalaman atau kenyataan mengenai penderitaan hidup manusia, mengenai kemerosotan moral, mengenai perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, mengenai keagungan Tuhan, dan banyak lagi lainnya. Tujuannya tentu saja dilihat dari segi nilai kehidupan manusia, martabat manusia, kegunaan bagi manusia secara kodrati. Berikut ini akan dicoba menguraikan alas an/motivasi dan tujuan seniman menciptakan keindahan.

(1) Tata nilai yang telah usang
Tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang merugikan dan mengorbankan nilai-nilai kemanuasiaan, misalnya kawin paksa, pingitan, derajat wanita lebih rendah dari derajat laki-laki. Tata nilai semacam ini dipandang sebagai mengurangi nilai moral kehidupan masyarakat., sehingga dikatakan tidak indah. Yang tidak indah harus disingkirkan dan digantikan dengan indah. Yang indah ialah tata nilai yang menghargai dan mengangkat martabat manusia, misalnya wanita.
Hal ini menjadi tema para sastrawan zaman Balai Pustaka, dengan tujuan untuk merubah keadaan dan memperbaiki nasin kaum wanita. Sebagai contoh novel yang menggambarkan keadaan ini ialah “layer terkembang” oleh Sultan Takdir Alisyahbana,”Siti Nurbaya” oleh Marah Rusli.

(2) Kemerosotan Zaman
            Keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejad terutama dari segi kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual ini dipenuhinya tanpa menghiraukan ketentuan-ketentuan hokum agama, dan moral masyarakat. Yang demikian itu dikatakan tidak baik, yang tidak baik itu tidak indah. Yang tidak indah itu harus disingkirkan melalui protes yang antara lain diungkapkan dalam karya seni.
            Sebagai contoh ialah karya seni berupa sajak yang dikemukan oleh W.S.Rendra berjudul “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”. Di sini pengarang memprotes perbuatan bejad para pejabat, yang merendahkan derajat wanita dengan mengatakan sebagai inspirasi revolusi, tetapi tidak lebih dari pelacur. Sajaknya sebagai berikut :

                        Pelacur-pelacur kota Jakarta
                        dari kelas tinggi dan kelas rendah
                        telah diganyang
                        telah diburu-buru

                        mereka kecut
                        keder
                        terhina dan tersipu-sipu
                        sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
                        tapi jangan kau klewat putus asa
                        dan kau relakan dirimu dibikin korban
                       
                        wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
                        sekarang bangkitlah
                        sanggul kembali rambutmu
                        karena setelah menyesal
                        datanglah kini giliranmu
                        bukan untuk membela diri melulu
                        tapi untuk lancarkan serangan
                        karena
                        sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
                        tapi jangan kau rela dibikin korban

                        Sarinah
                        katakan kepada mereka
                        bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
                        bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
                        tentang perjuangan nusa bangsa
                        dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
                        ia sebut kau inspirasi revolusi
                        sambil ia buka kutangmu

                        dan kau, Dasima
                        kabarkan kepada rakyat
                        bagaimana para pemimpin revolusi
                        bicara tentang kemakmuran dan api revolusi
                        sambil celananya basah
                        dan tubuhnya lemas
                        terkapar di sampingmu
                        ototnya keburu tak berdaya

                        politisi dan pegawai tinggi
                        adalah culak yang rapi
                        kongres-kongres dan konperensi
                        
tak pernah berjalan tanpa kalian
                        kalian tak pernah bisa bilang “tidak”
                        lantaran kelaparan yang menakutkan
                        kemiskinan yang mengekang
                        dan telah lama sia-sia cari kerja

                        ijazah sekolah tanpa guna
                        para kepala jawatan
                        akan membuka kesempatan
                        kalau kau membuka paha
                        sedang diluar pemerintahan
                        perusahaan-perusahaan macet
                        lapangan kerja tak ada
                        revolusi para pemimpin
                        adalah revolusi dewa-dewa
                        mereka berjuang untuk sorga
                        dan tidak untuk bumi
                       
                        revolusi dewa-dewa
                        tak pernah menghasilkan
                        lebih banyak lapangan kerja
                        bagi rakyatnya
                        kalian adalah sebagian kaum penganggur
                        yang mereka ciptakan
                        namun
                        sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
                        tapi jangan klewat putus asa
                        dan kau rela dibikin korban

                        pelacur-pelacur kota Jakarta
                        berhentilah tersipu-sipu
                        ketika kubaca dikoran
                        bagaimana badut-badut mengganyang kalian
                        menuduh kalian sumber bencana negara
                        aku jadi murka
                        kalian adalah temanku
                        ini tidak bisa dibiarkan

                        astaga
                        mulut-mulut badut
                        mulut-mulut yang latah
                        bahkan sex mereka berpolitikkan

                        saudari-saudariku
                        membubarkan kalian
                        tidak semudah membubarkan partai politik
                        mereka harus beri kalian kerja
                        mereka harus pulihkan derajat kalian
                        mereka harus ikut memikul kesalahan

                        saudari-saudariku
                        ambilah galah
                        kibarkan kutang-kutangmu di ujungnya
                        araklah keliling kota
                        sebagai panji-panji yang telah mereka nodai
                        kini giliranmu menuntut
                        katakanlah kepada mereka
                        menganjurkan mengganyang pelacur
                        adalah omong kosong

                        pelacur-pelacur kota Jakarta
                        saudari-saudariku
                        jangan melulu keder pada lelaki
                        dengan mudah
                        kalian bisa telanjangi kaum palsu
                        naikkan tarifmu dua kali
                        dan mereka akan kelabakan
                        mogoklah satu bulan
                        dan mereka akan puyeng
                        lalu mereka akan jina
                        dengan istri saudaranya.

(3) Penderitaan manusia
            Banyak faktor yang membuat manusia itu menderita. Tetapi paling menentukan ialah faktor manusia itu sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita sebagai akibat nafsu ingin berkuasa, serakah, tidak berhati-hati dan sebagainya.
            Keadaan demikian ini tidak mempunyai daya tarik dan tidak menyenangkan, karena nilai kemanusiaan telah diabaikan, dan dikatakan tidak indah. Yang tidak indah itu harus dilenyapkan karena tidak bermanfaat bagi kemanusiaan.

(4) Keagungan Tuhan
            Keagungan Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian alam. Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan Tuhan. Manusia hanya dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan itu. Seindah-indah tiruan terhadap ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri. Kecantikan seorang wanita ciptaan Tuhan membuat kagum seniman Leonardo da Vinci. Karena itu ia berusaha meniru ciptaan Tuhan dengan melukis Monalisa sebagai wanita cantik. Lukisan Monalisa sangat terkenal karena menarik dan tidak membosankan.
(Nugroho dan Muchji, 1996, hal 87-92)


DAFTAR PUSTAKA
1.    Muhammad. 2011. Ilmu Budaya Dasar Edisi Revisi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti
2.    Nugroho dan Muchji. 1996. MKDU Ilmu Budaya dasar. Jakarta: Gunadarma. (http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/index-ilmu_budaya_dasar.htm)


Komentar